Mama yang mengejang sewaktu melahirkanku ,
Merana kalaku terlahir,
Membesarkanku,
Menyuapiku,
Membuatkan kue tart pada ulang tahunku,
Membelaiku…
Aku hanya mengipasinya kala ia terbaring di rumah sakit, tak berdaya,
Betapa berdosanya aku…
Mama yang mendidikku,
Mengajarkanku arti perjuangan,
Mengajarkanku semangat, keberanian untuk tidak diinjak,
Mengajarkanku perlawanan,
Aku hanya membiayai sebagian biaya rumah sakit,
Dan aku sudah menepuk dada sebagai anak yang berbakti,
Betapa berdosanya aku…
Mama yang tersenyum bangga kala aku berhasil di sekolah
Menangisi kepergianku ke Tiongkok,
Meneteskan air mata setiap mendengar berita bom di Pakistan dan Afghanistan,
Menantikan datangnya telefonku dari negeri antah berantah,
Dan aku hanya mengiriminya kartu pos
Mengirimi artikel-artikel yang dimuat di majalah dan koran,
Betapa berdosanya aku…
Mama yang tersenyum dalam penderitaan,
Menahan setiap rasa sakit yang menghujam,
Mengelus-elusi kanker yang menggumpal,
Bermimpi untuk cepat-cepat meninggalkan rumah sakit,
Dan aku hanya bisa berucap, dari ribuan kilometer,
“Mama, janganlah engkau terlalu lama menderita,”
Betapa berdosanya aku…