:: You are at :: - My Journey -
.:My Journey:.
 
:: July 29, 2010 --- Bon Voyage, Mama
PermalinkPermalinkThu, Jul 29, 2010 @11:07 by Avgustin, Categories: About Going Home to Indonesia

Bon voyage, Mom, rest in peace…. After a year of suffering, now you are happy at HIS side. After a month of hunger and thirst, now you can eat anything you want. Please forgive your son, who couldnt make you happy and satisfied yet in your life.

Rest in Peace…

 
:: Mama…
PermalinkPermalinkTue, Jul 20, 2010 @16:07 by Avgustin, Categories: About Going Home to Indonesia

Mama yang mengejang sewaktu melahirkanku ,
Merana kalaku terlahir,
Membesarkanku,
Menyuapiku,
Membuatkan kue tart pada ulang tahunku,
Membelaiku…

Aku hanya mengipasinya kala ia terbaring di rumah sakit, tak berdaya,
Betapa berdosanya aku…

Mama yang mendidikku,
Mengajarkanku arti perjuangan,
Mengajarkanku semangat, keberanian untuk tidak diinjak,
Mengajarkanku perlawanan,

Aku hanya membiayai sebagian biaya rumah sakit,
Dan aku sudah menepuk dada sebagai anak yang berbakti,
Betapa berdosanya aku…

Mama yang tersenyum bangga kala aku berhasil di sekolah
Menangisi kepergianku ke Tiongkok,
Meneteskan air mata setiap mendengar berita bom di Pakistan dan Afghanistan,
Menantikan datangnya telefonku dari negeri antah berantah,

Dan aku hanya mengiriminya kartu pos
Mengirimi artikel-artikel yang dimuat di majalah dan koran,
Betapa berdosanya aku…

Mama yang tersenyum dalam penderitaan,
Menahan setiap rasa sakit yang menghujam,
Mengelus-elusi kanker yang menggumpal,
Bermimpi untuk cepat-cepat meninggalkan rumah sakit,

Dan aku hanya bisa berucap, dari ribuan kilometer,
“Mama, janganlah engkau terlalu lama menderita,”
Betapa berdosanya aku…

 
:: July 9, 2010 Surabaya – Ciuman Terakhir?
PermalinkPermalinkFri, Jul 09, 2010 @18:07 by Avgustin, Categories: About Going Home to Indonesia

Hari ini mungkin adalah hari yang paling penuh air mata bagiku, walaupun aku sudah berusaha tegar, setegar-tegarnya. Aku tak mampu menulis banyak, perasaanku masih berguncang.

Sudah 12 hari ini mama masuk rumah sakit Adi Husada di Surabaya. Mama adalah penderita kanker. Tahun lalu mama kena kanker ovarium, sudah dioperasi di Surabaya. Waktu itu, dokter yang membedah mama melihat ada kanker lain di usus. Bukannya diangkat, kanker itu malah didiamkan. Dua hari sesudah operasi mama malah dikemo. Tentu saja tubuh mama jadi lemah.

Aku langsung terbang meninggalkan semua kehidupanku di Afghanistan, untuk membawa mama berobat di rumah sakit Heng Sheng di Shenzhen. Di sana mama dikemo dua kali, lalu dioperasi. Dokter menjanjikan kami, setelah mama dioperasi, mama akan hidup sebagaimana orang normal. Kami senang sekali, dan mama pun sangat semangat. Mama adalah perempuan tangguh. Darinya aku belajar arti perjuangan. Mama tidak pernah mengeluh atau menangis. Setiap pagi dia selalu membangunkan aku untuk olah raga bersama. Aku berlari, mama bersenam. Sorenya pun mama masih pergi menari di lapangan seberang rumah sakit.

Dua bulan di Shenzhen adalah dua bulan yang penuh arti. Aku memang menemani mama yang sedang sakit, tetapi sebenarnya mamalah yang banyak memberiku energi positif. Sepulang dari Shenzhen, baik aku dan mama sama-sama dipenuhi harapan hidup.

Tetapi, enam bulan sesudah itu, yakni Februari 2010, mama kembali dideteksi kena kanker. Kanker lain tumbuh di dinding perutnya. Dokter di Shenzhen bilang harus cepat-cepat dioperasi. Dengan keuangan keluarga yang seadanya, dan berkat bantuan banyak saudara dan teman-teman, akhirnya kami berhasil mengumpulkan uang untuk kembali memberangkatkan mama ke Shenzhen. Kali ini, karena terikat kontrak, aku tak bisa menemani mama di rumah sakit. Seorang kawan mama yang menemani.

Semula kami mengira, ini operasi yang sama seperti yang lalu. Dan dengan semangat hidup mama, mana mungkin beliau menyerah? Aku sempat menyaksikan ketika mama masuk ke ruang ICU setelah operasi, dan aku segera berangkat ke beijing dengan penuh gundah. Mengapa ICU? Dulu mama pun tak pernah masuk ICU, cukup dirawat di kamar biasa.

Ternyata, tiga operasi dalam setahun sudah banyak merengut stamina mama. Luka jahitan bekas operasi tidak juga mengering, sampai sebulan lebih. Air terus mengucur. Dokter pun kebingungan. Seorang kawan, yang ayahnya adalah “orang pintar” meramalkan usia mama tidak lama lagi. Tetapi, “orang pintar” kan bukan dewa?

Ketika mama meninggalkan rumah sakit, dokter yang dulunya membekali obat-obatan untuk mencegah tumbuhnya kanker, kali ini tidak memberikan obat apa-apa. Aku malah dinasihati dengan kalimat-kalimat yang membuatku tak kuasa membendung air mata. “jangan sampai ada penyesalan di antara kita”, “yang terpenting kita semua sudah berusaha yang terbaik”, “tidak seorang pun yang bisa menjamin kanker mama tidak akan tumbuh lagi”, “biarlah mamamu menikmati hari-harinya, jangan dibikin lagi menderita dengan kemoterapi”, dan sebagainya.

Hanya seminggu pulang ke Indonesia, luka mama kembali mengucurkan air. Makan apa pun, keluar dari lubang jahitan itu. Rupanya usus yang dioperasi tidak melekat sempurna. Mama selalu tersiksa oleh penyakit itu, yang aku hanya bisa tahu “sakit”, tanpa mampu melukiskan lebih dalam lagi dalam alam nalarku yang tidak merasakan sendiri. Itu sakit yang luar biasa, ketika ada benda sekeras batu yang mendesak usus, dan makanan meluber keluar dari saluran usus mengisi semua rongga perut. Sakit seperti apakah itu? Mama bukan orang yang suka mengeluh, tak membiarkan orang lain ikut merasakan penderitaannya. Dan itulah yang mungkin salah satu sebabnya ia mendapat kanker—penderitaan yang terpendam.

Dua bulan saja. Ya cuma dua bulan, kondisi mama memburuk. Makanan sudah tidak bisa masuk lagi ke mulutnya. Perutnya sekeras batu. Kami semua panik. Mama langsung dibawa ke Surabaya, sempat mengeluh dalam keadaan seperti itu harus disiksa oleh jalan bergerunjal (thanks to Lapindo!), sampai di rumah sakit wajahnya sudah menghitam. Dokter langsung memasang selang-selang dan infus. Ternyata di perut mama tertimbun faeces banyak sekali, kanker yang sebesar 11 x 6 cm sudah mendesak usus, menekan ginjal kanan, sehingga sekarang cuma hanya satu ginjal yang bekerja. Bagaimana mungkin hanya dalam 2 bulan bisa tumbuh kanker secepat itu? Baru aku tahu fakta yang tidak pernah dikatakan dokter di Shenzhen tetapi secara jelas tertulis di laporan mereka, mama menderita adenocarcinoma, alias kanker kelenjar, salah satu jenis kanker yang sangat ganas. Mereka tahu, tidak ada gunanya mama mengetahui fakta ini. Mereka juga tahu, mentalku masih belum kuat untuk menerima fakta ini.

Aku langsung terbang dari beijing. Papa yang dulunya tegar, terdengar menangis di telepon. Papa adalah penderita stroke, sudah 7 tahun, dan terus berkata, “semua harus kita hadapi, kita yang hidup harus berjuang. Papa ini bertahan selama 7 tahun karena anak-anak belum ada yang jadi”. Papa sudah tahu, mama sudah tidak akan lama lagi.

Seminggu ini aku di rumah sakit, aku terus menyemangati mama. Dokter melatih mama untuk minum air gula. Mama tahu air gula baik untuk tubuh, ia memaksakan minum, walaupun itu sakit. Dokter bilang sekarang waktunya minum susu, mama pun semangat minum susu. Mulut boleh memaksa, tetapi ususnya tidak. Mama tetap berjuang dalam keyakinannya, ususnya lengket. Mama memintaku membawa minyak dari beijing, untuk melumasi usus. Aku harus mencari di banyak apotek dan rumah sakit, tetapi minyak ini sungguh sulit didapat. Aku tahu, minyak ini tidak akan berguna, tetapi ini mungkin adalah permintaan mama terakhir.

Kami tidak memberi tahu mama tentang penyakitnya yang sebenarnya. Kami masih berdoa, moga-moga usus mama hanya tersumbat, bukan macet total. Kami berharap, ada sebagian nutrisi dari energi susu yang bisa diserap tubuhnya.

Sampai kemarin dan hari ini, aku melihat dengan mata kepala sendiri, mama muntah. Yang keluar… ya Tuhan… faeces. Bukankah itu benda terkotor yang dihasilkan oleh tubuh manusia? Bukankah itu benda yang selalu kita hindari, kita pandang dengan jijik, kita hinakan? Tetapi, benda itu kini keluar dari mulut. Aku tak tahu bagaimana itu rasanya. Dari selang di hidung mama, yang mengeluarkan cairan lambung, keluar cairan berwarna kuning kental, persis faeces. Baunya persis faeces.

Semalam mama tidur dengan mengigau. Mama berteriak-teriak. Waktu kutanya, mama bilang, “mama mimpi, tidur di samping mamanya mama. Tiba-tiba, di pintu mama lihat ada orang. Mama teriak-teriak ke mamanya mama, ‘ma, ma, di luar ada orang! Tolong!’” Mamanya mama, nenek, atau kami panggil sebagai mak, sudah meninggal 12 tahun lalu waktu kerusuhan mei di jakarta. Dengan suara lemah mama berkata, “mama sudah minta maaf kepada mak, minta ampun semua dosa mama.”

Hari ini, papa yang menderita stroke datang dengan susah payah dari lumajang. Selama mama masuk di rumah sakit ini, papa sama sekali tidak pernah menjenguk. Papa sendiri sakit, dan aku juga kuatir akan mempengaruhi kesehatan papa.

Tak banyak perkataan antara mereka berdua. Papa sempat sesenggukan, berkata, “Aku tidak bisa mengurangi rasa sakitmu….” Aku langsung menggeret papa pergi dari ruangan. Air mata papa tentunya sangat berat bagi mama. Di luar, papa dan aku menangis bersama. Di koridor terdengar lolongan orang yang baru kecelakaan, menjerit, mengaduh. Aku sempat tersenyum ke papa, “pa, mama kita hebat sekali ya. Tidak pernah mengeluh.” “Iya, mamamu sudah terlalu banyak menahan. Ia selalu menahan.”

“Kalau mama pergi, kamu mau dikubur atau dibakar?”
Aku tak kuasa menahan tangis mendengar pertanyaan itu.

“Jangan menangis, Ho,” kata mama lemah kepada papa, sambil membelai tangan papa. Papa membelai tangan mama, mencium keningnya, dan mencium bibirnya. Air mata terus mengalir.

“Aku tidak pernah membelai mama, mencium mama,” kata Papa kepadaku, “tidak pernah seumur hidup. Ini adalah pertama kalinya.” Dalam hati kami tahu, ini juga mungkin terakhir kalinya. Kami orang Tionghoa punya kultur yang tidak suka menunjukkan perasaan secara eksplisit. Semua dipendam, dipendam, dipendam, sampai tak seorang pun yang tahu. Sebaliknya, jika mengkritik, kami tak kurang pedasnya. Aku sering kasihan mendengar bentakan papa terhadap mama. Sejak menderita stroke, emosinya sering meledak. Tapi mama sudah biasa.

Setidaknya masih ada kesempatan untuk ciuman terakhir itu. Saat aku menulis ini, mama masih di kamar, berjuang terus, dan tetap mengharap kesembuhan.

 
:: U-MAG: The Real Backpacker's Note
PermalinkPermalinkSun, Jun 06, 2010 @07:06 by Avgustin, Categories: Journey 2005-2006




Catatan Backpacker Tulen

Jika perjalanan backpacking Anda ke Kamboja dengan pesawat murah dan menginap di hostel penuh bule bau sudah dianggap luar biasa, sebaiknya Anda membaca Selimut Debu. Sang penulis bisa dibilang backpacker Indonesia paling gila.

Dengan hanya mengantongi US$ 300 (sekitar Rp 2,8 juta), Agustinus Wibowo nekat memulai perjalanan dari Beijing ke Afganistan. Dia menyambangi negeri itu ketika residu perang Taliban- Amerika masih terbang di udara, 2003. Agus menumpang kereta kelas kambing, bus, dan truk; bertahan hidup hanya dengan jajanan pasar; dan menembus keganasan gunung-gunung di utara Pakistan. Di buku harian kumal, ia menuliskan kisah perjalanannya yang benar-benar luar biasa: menembakkan Kalashnikov ke gua Usamah bin Ladin, hampir diperkosa gay Afgan, dan berkalikali ditangkap tentara.

Catatan di buku harian kumal itulah yang kini bias kita nikmati dalam buku setebal 461 halaman dengan foto-foto indah hasil jepretannya sendiri. Tak hanya berbekal kisah dramatis, Agus juga memiliki kemampuan menulis dengan baik. Bahasanya lancar, logikanya runut, dan pemilihan diksinya sangat luas. Oh ya, Tuhan sepertinya membekali Agus kemampuan berbahasa. Selain berbahasa Indonesia dengan baik, dia mampu berkomunikasi dalam selusin bahasa—Cina, Rusia, Urdu, Farsi, dan bahasa negeri-negeri Asia Tengah.

Kemampuan bahasa inilah yang memperkaya pengalaman dan kedalaman cerita. Dia dengan mudah ”menyamar” sebagai pria suku Hazara—salah satu suku di Afganistan dengan tampang mongolid (mata sipit dan kulit mulus tanpa bulu). Tak ada orang Afgan yang percaya dia berasal dari Indonesia sampai dia mengeluarkan paspor hijau bergambar burung Garuda. Tinggal di rumah orang Afgan atau duduk selama tiga hari penuh di samovar, kedai teh tempat orang Afgan bertukar gosip. Tanpa pemandu dan penerjemah, dia menerobos hingga Wakhan, kota di jantung Tajikistan yang masih perawan, sebuah surga yang hilang.

Meski amat dekat dan mencintai Afganistan, Agus cukup tegas mengambil jarak saat menuliskan pengalamannya. Sambil berkisah, dia melemparkan kritik kepada rakyat Afgan: tentang kekolotan mereka, rendahnya pendidikan, dan perlakuan kepada perempuan. Tapi Agus juga mengagumi mereka: keramahtamahan kepada tamu, kelaki- lakian, dan kecintaan mereka kepada negeri.

Tak ada gading yang tak retak. Selimut Debu tampaknya terlalu panjang untuk perjalanan di satu negeri. Agus—dan editornya— juga melewatkan sejumlah pengulangan yang tak perlu. Peletakan peta di halaman 18 pun agak terlambat, karena nama sejumlah kota sudah muncul di halaman sebelumnya. Foto-foto yang terlalu mini sebaiknya diterbitkan dalam buku fotografi yang terpisah. Sampulnya, meski cantik, tak menandakan ini adalah sebuah buku perjalanan, karena tak ada subjudul. Sepintas mirip novel. Meski demikian, buku ini tetap layak disebut sebagai salah satu buku perjalanan terbaik yang ditulis oleh orang Indonesia.l

 
:: U-MAG: Burkutchu, the Eagle Hunters (Mongolia)
PermalinkPermalinkThu, Mar 04, 2010 @18:03 by Avgustin, Categories: My Publication

U-Mag, March 2010 Edition

BURKUTCHU – SI PEMBURU ELANG

Wajah Mongolia ini barangkali jauh dari bayangan banyak orang, tatkala Agustinus Wibowo merekamnya pada musim gugur lalu: sabana hijau beralih menjadi samudra salju, dan para pengelana berpindah dari kemah nomaden ke gubuk-gubuk kayu agar lebih hangat. Inilah negeri tempat tradisi ribuan tahun tetap hidup dengan jaya di dalam diri para pemburu serta elangelang raksasa yang merajai angkasa raya.

Musim panas lewat diam-diam, meninggalkan jejak di padang rumput yang cokelat kekuningan. Mongolia—yang terkungkung di tengah daratan mahaluas—tiba-tiba sunyi dari hiruk-pikuk para pelancong. Semua wisatawan bergegas meninggalkan negeri itu di ambang musim gugur. Hawa dingin menjalar cepat dan sungguh tak bersahabat. Salju melumat seluruh negeri sejak pertengahan September. Suhu anjlok dari hari ke hari. Kehijauan padang rumput beralih menjadi samudra putih yang menggentarkan hati.

Mongolia adalah tanah yang ramah, hangat, dan indah pada Juni hingga Agustus. Di musim panas singkat ini, matahari terbit di waktu subuh, bersinar terik sepanjang hari, dan terbenam menjelang tengah malam. Tapi musim gugur datang terlalu cepat, sebelum orang tanak menikmati sinar surya.

Angin dingin dan salju September hanyalah ”pembuka” sebelum Mongolia mengarungi hari-hari dengan temperatur jauh lebih ganas: bisa minus 60 derajat Celsius. Embusan napas langsung menjadi es, darah membeku, pembuluh perih tak keruan. Seperti Siberia, kata Anda. Mongolia tak jauh berbeda, kata saya.

Di ujung barat, di Provinsi Bayan Olgii, kita berhadapan dengan realitas Mongolia yang lain. Lupakan kaum shaman yang masyhur, karena di sini berdiam bangsa minoritas Kazakh pemeluk Islam. Lupakan tenda-tenda putih bangsa nomaden, karena bangsa Kazakh (walaupun di musim panas tinggal di tenda seperti bangsa Mongol) kini sudah pindah ke rumah kayu yang hangat untuk melewatkan ganasnya musim dingin.

Tapi lelaki Mongolia tetaplah pria-pria yang dipilih Genghis Khan untuk menaklukkan dunia. Sementara lelaki Jawa memelihara perkutut dalam sangkar, pria Mongolia sampai kini memelihara budaya yang nyaris punah: berburu elang. Sebuah tradisi yang melibatkan kegagahan, keberanian, kejantanan.

***

Elang itu mengepakkan sayap lebih panjang daripada rentang tangan orang dewasa. Di langit biru mahaluas, hewan raksasa itu melesat, melayang lambat, terbang mengitar, bermanuver dan berakrobat, mengincar sesuatu dengan matanya yang awas. Lalu hap… burung itu menukik tajam ke arah kami yang tengah memandang di daratan dengan terkagum-kagum.

Seorang pria Kazakh mengendalikan kuda dengan anggun. Kepalanya mendongak, matanya menyipit, perhatiannya hanya terpaku pada elang di angkasa. Tubuh lelaki tangguh ini berbalut baju dari bulu tujuh ekor serigala. Topinya menjuntai lebar, dibikin dari bulu kaki rubah. Dia lebih mirip hewan berbulu, sebuah kamuflase bangsa pemburu yang mengincar mangsa di alam liar. Di mata saya, lelaki Kazakh ini seperti datang dari abad pertengahan melalui mesin waktu.

Tangan kirinya mengendalikan kuda yang berlari cepat. Tangan kanannya terbungkus sarung tebal dari kulit hewan, terulur menengadah. Di atas telapak tangannya, ada seiris kecil daging merah.

Dalam sekejap, burung itu melesat dari awang-awang, menukik tajam. Sssttt… sssttt… sssttt… hanya terdengar kepakan sayap yang membahana di tengah embusan angin dingin. Burung itu mendarat di atas telapak tangan si penunggang kuda. Kakinya yang tajam mencengkeram erat-erat tangan kanan yang terbungkus sarung tebal. Tanpa perlindungan ini, kulit manusia bisa hancur tercabik oleh kuku elang, yang setajam pisau tukang jagal. Dengan kuku yang sama, burung raksasa ini bisa membunuh domba, rubah, kelinci, hingga anak sapi dan serigala.

Penonton bersorak girang. Penonton? Ya, ini acara tahunan Golden Eagle Festival, tempat berkumpulnya pemilik elang jagoan dari seluruh penjuru Bayan Olgii. Lelaki berkuda yang ditepuki itu menyeringai bangga. Elang peliharaannya terbukti tangguh. Burung seberat tujuh kilogram itu terbang dari puncak bukit yang menjulang tinggi ratusan meter di belakang lapangan, tapi masih bisa dengan titis menyambar sejumput kecil daging segar yang dibawa pemiliknya.

Keawasan mata Aquila chrysaetos, golden eagle, alias elang besar dari Pegunungan Altai di Mongolia Barat adalah yang terbaik di dunia. Jarak pandangnya sampai sepuluh kali lebih tajam daripada penglihatan manusia normal.

Dalam bahasa Kazakh, pria yang menyeringai itu dikenal sebagai burkutchu, dari kata burkut, yang artinya elang, dan chu, ahli. Dalam bahasa Inggris, mereka disebut sebagai falconer atau eagle hunter, pemburu elang. Jangan salah, pemburu elang tidak memburu elang, tapi berburu bersama elang. Namun, tentu saja, sebelum memiliki elang pemburu, mereka harus benar-benar memburu sendiri elang yang akan dipelihara.

Sejak ribuan tahun lalu, elang menjadi alat berburu yang mematikan. Tak perlu senapan, peluru, racun, atau jala. Pertandingan ketitisan elang yang diterbangkan dari puncak gunung untuk memburu mangsa di lapangan adalah penyederhanaan kultur perburuan bersama elang.

Dulu, olahraga ini dimonopoli kaum ningrat. Konon Kaisar Mongol Genghis Khan punya pasukan elite pemburu sekaligus pawang rajawali. Cucunya, Kubilai Khan, sering mengadakan ekspedisi raksasa perburuan bersama ribuan rajawali pilihan. Seiring dengan meluasnya kekuasaan imperium Mongol, tradisi ini menyebar hingga ke Eropa dan Arab. Kini kepemilikan rajawali dan elang beralih ke para syekh Arab yang bergelimang harta.

Namun jangan bandingkan bangsa-bangsa itu dengan kebanggaan orang Kazakh akan elang dan rajawali. Di sini, elang tak hanya muncul dalam simbol-simbol, hikayat, atau mitologi. Elang adalah bagian hidup nyata. ”Sejak bangsa Kazakh terlahir ke bumi, kami sudah menjadi pemburu elang,” kata Baydi, kakek tua dari Bayan Olgii, yang sudah lebih dari 50 tahun menjadi pemburu elang.

Baydi adalah salah satu tetua pawang elang Kazakh Mongolia. Di sekujur tubuhnya, segala kisah perburuan seolah melekat: pada keriput wajahnya, sejumput jenggot putih yang menjuntai, topi bulu rubah yang memahkotai kepalanya, balutan jubah hitam kebesarannya, juga kudanya yang perkasa. Elang Kakek Baydi tampak garang dengan paruh bengkok tajam, membuatnya seperti tokoh legenda klasik yang kesasar di dunia modern. Saya membayangkan, kala bangsa Kazakh ”terlahir” ke dunia ribuan tahun silam, penampilan mereka boleh jadi tak berbeda dengan Baydi.

Atamurat adalah nama pemburu lain dari generasi lebih muda. Dua elang besar hidup bersama keluarganya di kemah dan di rumahnya yang sempit. ”Tentu saja burung elang ini lebih bahagia hidup di rumah saya daripada di alam liar,” katanya dengan bangga. Berasal dari Dusun Tsengel, lelaki 43 tahun ini tergolong baru di dunia perburuan elang. ”Alhamdulillah, elang saya sudah berumur satu tahun. Bisa kau lihat sendiri betapa hebatnya ia.”

Elang milik Atamurat sudah setinggi lutut—posturnya tak jauh berbeda dibanding elang para pemburu lain. Baru saya tahu, ternyata bayi elang tumbuh pesat pada usia pertama. Setelah mencapai ukuran standar, ukuran tubuh elang tak banyak berubah lagi sampai akhir hayatnya.

Atamurat bercerita, elang miliknya dia culik dari puncak gunung ketika hewan ini masih bayi mungil, dan berkaok malang di sarang, menantikan induknya membawa makanan. ”Berbahaya? Tentu saja! Induk elang adalah hewan terganas di dunia, apalagi kalau melihat anaknya diculik atau disakiti,” kata Atamurat.

Atamurat dan para pemburu lain tak merasa berdosa memisahkan bayi elang dari induknya. ”Saya justru membuatnya lebih berbahagia,” ujarnya. ”Di alam liar, betapa susahnya mereka memburu mangsa. Di rumah saya, setiap hari saya menyediakan daging segar,” kata Atamurat.

Lauren, falconer asal Amerika Serikat, punya pendapat berbeda dengan Atamurat. Menurut Lauren, elang jagoan itu bukan bayi elang yang diculik dari sarangnya, melainkan elang dewasa yang ditangkap dari alam liar. Bayi elang adalah makhluk lugu yang masih disuapi. Tapi elang dewasa yang sudah pernah memburu mangsa jauh lebih tangguh. Ia sebenarnya sudah siap jadi pemburu, tak perlu lagi banyak dilatih. ”Mata, kaki, paruh, dan sayapnya, semua sudah sempurna,” ujar Lauren.

Gadis muda ini adalah satu dari sekitar 5.000 falconer di Amerika. Dia mendapat beasiswa Fulbright untuk mendalami tradisi berburu elang di Bayan Olgii. Lauren beruntung bisa memperdalam pengetahuannya langsung bersama para pemburu Kazakh.

Elang, menurut Lauren, adalah hewan yang pintarnya sedang-sedang saja serta mudah cemburu. Manusia memanfaatkan kecemburuan itu untuk menjebaknya. Istilahnya: jealousy trick. Caranya? Daging rubah atau serigala segar ditaruh di tanah lapang. Lalu kumpulkan burung predator lain. Misalnya gagak, rajawali, atau alap-alap.

Nah, sebagai raja angkasa, elang tak sudi melihat burung-burung predator kecil yang kalah perkasa itu berpesta-pora, sementara ia sendiri kelaparan. Dengan kepakan sayapnya yang kuat, ia meluncur untuk menyambar umpan tadi. Hap…. Begitu mendarat, dia langsung dikurung oleh jaring-jaring yang dipasang para pemburu di sekeliling jebakan. Semakin kuat ia mengepak, semakin erat jaring-jaring membelitnya. Nasibnya akan segera ditentukan oleh si pemburu. Sebab, tak semua elang yang tertangkap langsung dipelihara dan dijadikan hewan pemburu.

Para burkutchu hanya senang memelihara elang betina. Selain lebih ganas, ukurannya jauh lebih besar daripada para pejantan. Elang pemburu juga tak boleh terlalu tua. Idealnya berusia satu hingga dua tahun.

Setelah ditangkap, burung itu harus dilatih dulu untuk disiapkan menjadi pemburu yang tangguh. Hari-hari pertama adalah yang paling berat. Burung itu akan terus berontak. Hewan malang itu dibiarkan lapar berhari-hari. Ia harus belajar bahwa ia bukan lagi makhluk merdeka. Ia harus belajar mengenal siapa tuannya, siapa pemiliknya, yang akan menentukan nasibnya.

Sang pemburu akan meletakkan burung itu di atas tangannya sepanjang hari sembari memberikan umpan daging mentah. Dengan sigap elang itu akan menyambar daging. Tapi tidak, tidak semudah itu. Pemburu dengan sigap menarik kembali elang yang terikat kakinya. ”Kenali dulu siapa pemilikmu, baru engkau boleh makan”. Demikian berhari-hari elang itu ”disiksa” sehingga ia melepaskan keliarannya dan berubah menjadi makhluk yang patuh.

***

Hewan raksasa itu merana. Matanya tertutup tudung hitam. Kakinya terikat rantai. Ia tak beranjak dari balok kayu di sudut ruangan. Sayapnya terkadang mengepak, punuknya sesekali berdiri, paruhnya membuka, memamerkan keg anasan sang raja angkasa. Tapi ia terpenjara, di sudut rumah sederhana milik Manaa, sang pemburu elang.

”Ini burkut istimewa,” kata Manaa, pria 60 tahun, sembari terkekeh, ”Dia calon juara besar.” Jenggot Manaa sudah memutih, dan kerut yang dalam menghiasi wajahnya yang sepuh. Duduk di atas kursi kayu rendah, sambil menyeruput teh hitam asin, Manaa tak henti berkisah tentang kegagahan elangnya.

Tapi, di sudut ruangan ini, kegagahan itu terlunturkan oleh reyotnya rumah Manaa, oleh rantai besi yang mengikat kaki tajamnya, oleh tudung mata hitam yang membutakannya. Ia ibarat bangsa besar yang telah dilucuti kebang- gaannya, terkulai tak berdaya.

Mengapa elang peliharaan Manaa ini harus dibutakan sepanjang hari?

Elang adalah binatang yang teramat aktif, kata Manaa. Ketika matanya dibuka, ia akan memindai segala penjuru, mencari mangsa. Ia menjadi liar, mengepakkan sayap, siap terbang dan menerkam. Tapi di rumah ini mana ada mangsa? Bisa-bisa dia menghabiskan energinya sendiri.

”Otak burkut itu sebenarnya sederhana. Begitu matanya ditutup tudung, pikirannya cuma satu: malam sudah tiba. Binatang ini jadi mengantuk, tenang, kalem. Ia tidak melakukan hal tak perlu seperti mengincar mangsa, mengepakkan sayap, atau memberontak.”

Manaa menamai elangnya Sary Tenek. Sary artinya kuning, dan tenek berarti elang berusia dua tahun. Sebagai bangsa pencinta elang, Kazakh punya lebih dari sepuluh kata spesifik untuk menyebut elang pada berbagai tahapan umur.

Setiap hari dia menyediakan setengah kilogram daging domba untuk Sary. Tapi Manaa sengaja membuatnya kelaparan, supaya Sary lebih beringas ketika musim perburuan tiba. Elang itu hanya diberi makan malam hari, ketika tudung mata dibuka. Bret… bret… sayapnya mengepak mengikis kesunyian malam. Paruhnya yang bengkok menyeringai seram. Bulu punuknya berdiri tegak. Kepalanya berputar ke segala penjuru, dan matanya tajam. Dengan rakus, elang itu menyantap potongan daging di atas telapak tangan Manaa yang dibungkus sarung tebal.

”Memelihara elang sama sekali bukan untuk memperkaya diri, kau tahu itu,” kata Manaa. Lebih-lebih di musim panas, ketika hewan ini sama sekali tak mampu berburu, ”Kami harus menghidupinya dengan lima kilogram daging. Seekor domba hanya cukup untuk makanan elang tiga hari saja Tak mudah, karena kami pun orang miskin. Biarlah keluarga ini kelaparan,
asalkan elangku tetap kenyang,” tutur Manaa.

Elang ini bukan sekadar binatang peliharaan atau senjata perburuan. Ia menjadi bagian keluarga penggembala tua ini, bahkan bagian dari masa depan. Sedari kecil, anak-anak Manaa sudah dilatih untuk menangkap dan berburu bersama elang.

Saya memandang elang itu lekat-lekat. Ia tengah mencengkeram kuat-kuat balok kayu di sudut kamar. Sayap bulunya mengembang, gagah dan indah. Perburuan elang adalah gabungan kecintaan kepada alam, ketangguhan lelaki pengembara, kebanggaan suku bangsa padang rumput. Perburuan elang adalah seni dan tradisi turun-menurun. Di dalamnya ada semangat bertahan hidup, dan keberanian menaklukkan tantangan.

Manakala bangsa-bangsa di padang Asia Tengah sibuk mencari identitas dan eksistensinya, orang Kazakh dengan bangga memamerkan burung elang mereka.

Hari itu, pada musim panas lalu, saya berdiri di tanah lapang luas bersama ribuan manusia dari segala penjuru Bayan Olgii. Mereka dating untuk menonton Golden Eagle Festival. Mereka ingin menyaksikan para pemburu beraksi bersama elang-elang jawara. Melayang dari puncak bukit tinggi menjulang, raja angkasa itu dengan titis menyambar sejumput kecil daging segar di tangan pemiliknya.

Seseorang berkata kepada saya: ”Tataplah mata elang yang jernih tajam itu jika berani. Di dalamnya, engkau akan melihat senyum kemenangan lelaki Kazakh.”

————————————————————–

Catatan Tambahan:
Kazakh
>> Kazakh adalah satu bangsa pengembara yang mengarungi padang-padang rumput Siberia, Mongolia, hingga Asia Tengah. Selama ribuan tahun mereka berkelana bersama kawanan ternaknya, dari padang ke padang. Mereka mencari surga rerumputan segar, aliran sungai yang menghidupkan, dan hewan buruan yang boleh dimangsa.

>> Tanah tumpah darah bangsa Kazakh, kini menjadi Republik Kazakhstan, sempat dijajah Rusia. Pemerintah komunis Uni Soviet berusaha keras menghapuskan tradisi nomaden, termasuk perburuan elang. Setelah seratusan tahun dijajah Rusia, tradisi ini berada dalam bayang-bayang kepunahan.

>> Justru di Mongolia, tempat bangsa Kazakh hidup sebagai minoritas di pedalaman, perburuan elang masih bertahan hingga kini.

 
:: My Journey
This blog contains my current and previous trips. You can browse the blog categories to read my previous trips (some written in Indonesian language only). And I'd be very happy if you also give comments in my blog.


July 2010
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
 << <   > >>
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

:: Categories

:: Archives

:: Search
 
Web avgustin.net




:: Syndicate this blog
 


.:Disclaimer Notes:.
You may not distribute any of the material in this sites without permission from Avgustin.Net
This blog is powered by
b2evolution
Agustinus Wibowo photography
© 2005 - 2008
eXTReMe Tracker